Selasa, 10 Maret 2015

MAKALAH SURVEILANS

BAB II
PEMBAHASAN

A.   DEFINISI
Menurut WHO, Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk diambil tindakan.
Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terus menerus dan sistematis yang kemudian di diseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008). Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir.
Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001). Kadang digunakan istilah surveilans epidemiologi. Baik surveilans kesehatan masyarakat maupun surveilans epidemiologi hakikatnya sama saja, sebab menggunakan metode yang sama, dan tujuan epidemiologi adalah untuk mengendalikan masalah kesehatan masyarakat, sehingga epidemiologi dikenal sebagai sains inti kesehatan masyarakat (core science of public health).
Surveilans memungkinkan pengambil keputusan untuk memimpin dan mengelola dengan efektif. Surveilans kesehatan masyarakat memberikan informasi kewaspadaan dini bagi pengambil keputusan dan manajer tentang masalah-masalah kesehatan yang perlu diperhatikan pada suatu populasi. Surveilans kesehatan masyarakat merupakan instrumen penting untuk mencegah outbreak penyakit dan mengembangkan respons segera ketika penyakit mulai menyebar. Informasi dari surveilans juga penting bagi kementerian kesehatan, kementerian keuangan, dan donor, untuk memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik (DCP2, 2008). .
Surveilans berbeda dengan pemantauan (monitoring) biasa. Surveilans dilakukan secara terus menerus tanpa terputus (kontinu), sedang pemantauan dilakukan intermiten atau episodik. Dengan mengamati secara terus-menerus dan sistematis maka perubahan-perubahan kecenderungan penyakit dan faktor yang mempengaruhinya dapat diamati atau diantisipasi,sehingga dapat dilakukan langkah-langkah investigasi dan pengendalian penyakit dengan tepat.

B.   PRINSIP
Adapun prinsip surveilans sebagai berikut :
1.    Pengumpulan data
2.    Pengolahan data
3.    Analisis data
4.    Pemberian umpan balik
5.    Pelaporan
6.    Evaluasi

C.   MACAM-MACAM
Dikenal beberapa macam surveilans
(1) Surveilans individu;
(2) Surveilans penyakit;
(3) Surveilans sindromik;
(4) Surveilans Berbasis Laboratorium;
(5) Surveilans terpadu;

(6) Surveilans kesehatan masyarakat global.




1.      Surveilans Individu
Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu-individu yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus, demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak, sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh, karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama periode menular.
Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001). Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial. Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan dan tingkat bahaya transmisi penyakit.
Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja.
Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal, politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan Upshur, 2007).

2.    Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu.
Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program vertikal (pusat-daerah).
Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria.
Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program surveilans penyakit vertikal yang berlangsung paralel antara satu penyakit dengan penyakit lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk sumberdaya masingmasing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan inefisiensi.

3.    Surveilans Sindromik
Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit. Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit.
Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati.
Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk memonitor krisis yang tengah berlangsung (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006). Suatu sistem yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans sentinel.
Pelaporan sampel melalui sistem surveilans sentinel merupakan cara yang baik untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas (DCP2, 2008; Erme danQuade, 2010).

4.    Surveilans Berbasis Laboratorium
Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik (DCP2, 2008).
5.    Surveilans Terpadu
Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006).
Karakteristik pendekatan surveilans terpadu:
1.      Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services);
2.      Menggunakan pendekatan solusi majemuk;
3.      Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural;
4.      Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan, analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya)
5.      Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO, 2002).

6.      Surveilans Kesehatan Masyarakat Global
Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara. Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan negara maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemi global (pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases), maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (newemerging diseases), seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008).

D.   MANFAAT
Manfaat surveilans sebagai berikut :
1.      Memperkirakan besarnya masalah kesehatan yang penting
2.      Sebagai gambaran perjalanan alami suatu penyakit
3.      Sebagai deteksi KLB
4.      Dokumentasi, distribusi, dan penyebaran peristiwa kesehatan
5.      Bermanfaat untuk epidemiologi dan penelitian laboratorium
6.      Untuk keperluan  evaluasi pengendalian dan pencegahan
7.      Sebagai tool monitoring kegiatan karantina
8.      Dapat memperkiraan perubahan dalam praktek kesehatan, dan sebagai perencanaan



BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk diambil tindakan.
Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terusmenerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008).
Prinsip surveilans sebagai berikut; pengumpulan data, Pengolahan data, Analisis data, Pemberian umpan balik, Pelaporan dan Evaluasi. Beberapa macam surveilans ialah Surveilans individu; Surveilans penyakit; Surveilans sindromik; Surveilans Berbasis Laboratorium; Surveilans terpadu;  Surveilans kesehatan masyarakat global.
Manfaat dari surveilans ialah Memperkirakan besarnya masalah kesehatan yang penting; Sebagai gambaran perjalanan alami suatu penyakit; Sebagai deteksi KLB; Dokumentasi, distribusi, dan penyebaran peristiwa kesehatan; Bermanfaat untuk epidemiologi dan penelitian laboratorium; Untuk keperluan  evaluasi pengendalian dan pencegahan; Sebagai tool monitoring kegiatan karantina; Dapat memperkiraan perubahan dalam praktek kesehatan, dan sebagai perencanaan.

B.   Saran
Sebagai seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang baik tentang suurveilans dan mampu mengaplikasikan dalam praktek kebidanan. Seperti saat melakukan diagnosa penyakit dan perencanaan penanggulangan serta pencegahan penyakit.



Daftar Pustaka

Sulistyaningsih. 2011. Epidemiologi Dalam Praktik Kebidanan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
NN, “Kegiatan dan Ruang Lingkup Surveilans Epidemiologi”.
Mulyanti, Sri. 2011. Surveilans Kesmas. Tersedia pada web: http://bidansrimulyanti.blogspot.com/2011/04/surveilans-kesmas.html
Nur Nasry Noor. Bahan kuliah Epidemiologi Dasar. FKM. Unhas.

Ridwan, 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat Surveilans Epidermiologi Sebuah Pengantar. FKM-UNHAS.

Kamis, 05 Maret 2015

KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

 KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

OLEH
Kelompok 1
Antonia Seran
Julieta araujo
Cicilia Mbelo
Maria R.S Bahus
Cynthia M. Fangidae
Nur Raihani
Dwi Kurniati
Syartika Rani







POLTEKKES KEMENKES KUPANG
JURUSAN KEBIDANAN
2015/2016


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Defenisi
Kegawatdaruratan adalah dignosa dan tindakanterhadap semua pasien yang memerlukanperawatan yang tidak direncanakan danmendadak atau terhadap pasien dengan penyakit atau cidera akut untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian pasien.
Kegawatdaruratan maternal adalah perdarahan yang mengancam nyawa selama kehamilan dan dekat  cukup bulan meliputi perdarahan yang terjadi pada minggu awal kehamilan (abortus,molahidatidosa,khista vasikuler, kehamilan ekstra uteri/ektopik) dan perdarahan pada minggu akhir kehamilan dan mendekati cukup bulan (plasenta previa,sulosio plasenta,rupture uteri,perdarahan persalinan pervaginam  setelah seksio secarea,rentensio plasenta atau plasenta incomplete, perdarahan pasacapersaliinan, hematoma, koagulopati obstetric).
Kegawatdaruratan neonatal adalah keadaan yang mengancam nyawa neonatus (hiportemi,hipertermia,hiperglikemia,Tetanus Neonaturum).














B.  Tanda dan gejala
1.    Kegawatdaruratan maternal
a.    Kegawatdaruratan Pada Kehamilan usia muda

1)     Abortus

Perdarahan
Serviks
Uterus
Gejala/ Tanda
Diagnosis
Bercak Hingga sedang
Tertutup
Sesuai dengan usia gestasi
·  Keram perut bawah
·  Uterus lunak
Abortus Imminens
Sedikit membesar dari normal
·  Limbung atau pingsang
·  Nyeri perut bawah
·  Nyeri Goyang porsio
·  Massa adneksa
·  Cairan bebas intra abdomen
Kehamilan ektopik terganggu
Terbuka/terbuka
Lebih Kecil dari usia gestasi
·  Sedikit atau tanpa nyeri perut
·  Riwayat eksplusi hasil konsepsi
Abotus komplit
Sedang hingga masif atau banyak
Terbuka
Sesuai dengan usia kehamilan
·  Keram atau nyeri perut bawah
·  Belum terjadi eksplusi hasil konsepsi
Abortus insipiens
·  Keram atau nyeri perut bawah
·  Eksplusi sebagian hasil eksplusi
Abortus inkomplit
terbuka
Lunak dan lebih besar dari usia gestasi
·  Mual atau muntah
·  Keram perut bawah
·  Sindroma mirip preeklamsia
·  Tidak ada janin, keluar jaringan seperti anggur
Abortus mola



2)     Kehamilan Ektopik 
Kehamilan Ektopik
Kehamilan Ektopik Terganggu
1.    Gejala kehamilan awal (flek atau perdarahan) biasanya ditandai dengan flek atau perdarahan yang iregular, mual, pembesaran payudara, perubahan wara pada vagina dan serviks, perlukaan serviks, pembesaran, frekuensi buang air kecil yang meningkat.
2.    Nyeri pada abdomn dan pelvis
1.    Kolaps dan kelelahan
2.    Denyut nadi cepat dan lemah (110x/mnt atau lebih)
3.    Hipotensi
4.    Hipovolemia
5.    Abdomen akut dan nyeri pelvis
6.    Distensi abdomen
7.    Nyeri Lepas
8.    Pucat


3)     Mola Hidatidosa
Gejala dan tanda adalah:
1.     uterus melunak dan bekembang lebih cepat dari usia gestasi yang normal
2.    Tidak dijumpai adanya janin
3.    Kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur.

b.    Kegawatdaruratan Pada Kehamilan usia lanjut dan persalinan
Tanda dan gejala Plasenta previa, solusio plasenta, ruptur uteri dan gangguan pembekuan darah
Gejala dan Tanda Utama
Faktor Predisposisi
Penyulit lain
Diagnosis
1.    Perdarahan tanpa nyeri, usia gesatasi 22mg
2.    Darah segar atau  kehitaman dengan bekuan
3.    Perdarahan dapat terjadi setelah miksi atau defekasi, aktifitas fisik, kontraksi braxton his atau koitus
Grandemultipara
1.    Syok
2.    Perdarahan sete lah koitus
3.    Tidak ada kontraksi uterus
4.    Bagian terendah janin tidak masuk PAP
5.    Kondisi janin normal atau terjadi gawat janin
Plasenta previa
1.    Perdarahan dengan nyeri intermitten atau menetap
2.    Warna darah kehitaman dan cair, tetapi mungkin ada bekuan jika soulusio relatif baru
3.    Jika ostium terbuka, terjadi perdarahan berwarna merah segar

1.    Hipertensi
2.    Versi Luar
3.    Taruma Abdomen
4.    Polihidramion
5.    Gameli
6.    Defsiensi Gizi
1.    Syok yang tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar(tipe tersembunyi )
2.    Anemia berat
3.    Melemah atau hilangnya gerak janin
4.    Gawat janin atau hilangnya djj
5.    Uterus tegang dan nyeri
Solusio Plasenta
1.    Perdarahan intra abdominal dan atau vaginal
2.    Nyeri hebat sebelum perdarahan dan syok, yang kemungkinan hilang setelah terjadi regangan hebat pada perut bawah (Kondisi ini tidak khas)

1.    Riwayat seksio sesarea
2.    Partus lama atau kasep
3.    Disproporsi kepala atau fetopelvik
4.    Persalinan traumatik

1.Syok atau takhikardia
2. Adanya Cairan bebasa intra abdominal
3. Hilangnya gerak atau DJJ
4. bentuk uterus abnormal atau konturnya tidak jelas
5. Nyeri raba atau tekan dinding perut dan bagian – bagian janin mudah dipalpasi

Ruptur Uteri
1.    Perdarahan berwarna merah segar
2.    Uji pembekuan darah tidak menunjukan adanya bekuan darah setelah 7 menit
3.    Rendahnya faktor pembekuan darah, fibrinogen, trombosit, fragmentasi sel darah merah

1.    Solusio plasenta
2.    Janin mati dalam rahim
3.    Eklamsia
4.    Emboi air ketuban

1.    Perdarahan gusi
2.    Gambaran memar bawah kulit
3.    Perdarahan dari tempat suntikan dan jarum infus

Gangguan pembekuan darah

c.    Kegawatdaruratan pasca bersalin
Diagnosis
Gejala dan tanda yang selalu ada
Gejala dan tanda yang kadang – kadang ada
Atonia uteri
1.    Uterus tidak berkontraksi dan lembek
2.    Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan pasca persalinan prmer / P3)
Syok
Robekan jalan lahir
1.    Perdarahan segera (P3)
2.    Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir (P3)
3.    Uterus berkontraksi baik
4.    Plasenta lengkap
1.    Pucat
2.    Lemah
3.    Menggigil
Retensio plasenta
1.    Plasenta belum lahir setelah 30 menit
2.    Perdarahan segera (P3)
3.    Uterus kontraksi baik
1.    Teli pusat putus akibat traksi berlebihan
2.    Inversio uteri akibat tarikan
3.    Perdarahan lanjutan
Teringgalnya sebagian plasenta
1.    Plasenta atau sebagian selaput(mengandung pembuluh darah)tidak lengkap
2.    Perdarahan segera(P3)
Uterus berkontaksi tetapi  tinggi fundus tidak berkurang
Inversio Uteri
1.    Uterus tidak teraba
2.    Lubang vagina terisi masa lumen
3.    Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir)
4.    Perdarahan segera (P3)
5.    Nyeri sedikit atau berat
1.    Syok neurogenik
2.    Pucat dan limbung

Perdarahan terlambat (sisa plasenta atau Endometritis)
1.    Sub-Involsi uterus
2.    Nyeri tekan perut bawah
3.    Perdarahan > 24 jam setelah persalinan. Perdarahan sekunder (P2S). Perdarahan bervariasi (ringan/berat, terus menerus atau tidak teratur) dan berbau (jika disertai infeksi)

1.    Anemia
2.    Demam
Robekan Dinding uterus (Rupture uteri)
1.    Perdarahan segera (P3)(perdarahan intraabdomina dan atau vaginum)
2.    Nyeri perut berat(Kurangi dengan ruptur )
1.    Syok
2.    Nyeri Tekan perut
3.    Denyut nadi iubu cepat

2.    Kegawatdaruratan neonatal
a.    Hipotermi
Hipotermi adalah kondisi dimana suhu tubuh kurang dari 360c atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.klasifikasi hipotermi adalah  sebagai berikut:
1)    Hipotermi sedang (suhu tubuh berkisar 32- <360c). tanda-tandanya antara lain: kaki teraba dingin,kemampuan menghisap lemah,tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau disebut kutismarmorata
2)    Hipotermi berat (suhu tubuh <320c). tanda-tandanya sama dengan hipotermi sedang, disertai dengan pernafasan terlambat tidak teratur dan lambat,bunyi jantung lambat terkadang disertai hipoglikemi dan asidosisimetabolik.
b.    Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipotermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas dari pada mengeluarkan panas
Tanda dan gejala : panas, kulit  kering, kulitmenadi merahdan teraba panas, pelebaran pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuangan panas,bibir  bengkak. Tanda-tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan  serangan panas dapat menghasilkan mual muntah
c.    Hiperglikemia
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam plasma darah berlebihan. Gejala hiperglikemia antara lain :polifage atau sering kelaparan,polibipsi atau sering haus,poliuri atau sering berkemih,berat baan menurun,mulut dan kulit kerring,sulit terjadi penyembuhan luka,arrytimia,pingsan,dan koma.
d.    Tetanus neonaturum
Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang disebabkan karena basil klostridium tetani. Tanda-tanda kilnis yaitu bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum,mulut  mencucu seperti mulut ikan, mudah  gelisah(kadang-kadang menangis)dan sering kejang disertai sianosis, ektremitas terulur dan kaku,dahi berkerut,alis mata terangkat,sudut mulut tertarik kebawah.

C. Penyebab Kegawatdaruratan
1.    Penyebab kegawatdaruratan maternal
a.    Perdarahan Kehamilan usia muda
1)    Abortus :
a)    Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
b)    Kelainan pada plasenta
c)    Faktor ibu seperti penyaki-penyakit kronis yang di derita oleh sang ibu
d)    Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu

2)    Ektopik :
Terlambatnya transport ovum karena obstruksi mekanis pada jalan yang melewati tuba uteri.
3)    Mola hidatidosa :
Penyebab pasti mola hidatidosa tidak diketahui,tetapi faktor-faktor yang mungkin dapat menyebabkan dan mendukungterjadinya mola antara lain ; faktor ovum, dimana ovum memang sudah patologik sehingga mati,tetapi terlambat dikeluarkan.
b.    Perdarahan Kehamilan usia lanjut
1)    Atonia Uteri
a)    Disfungsi uterus
b)    Multiparitas
c)    Partus lama
d)    Pembesaran uterus berlebihan
e)    Mioma uteri
f)     Anastesi yang dalam dan lama
g)    Penatalaksanaan yang salah pada kala tiga
2)    Robekan Jalan Lahir
a)    Faktor maternal
(1)  partus presipitatus  yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong
(2)  pasien tidak mampu berhenti mengejan
(3)  partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan
(4)  oedema dan kerapuhan pada perenium
(5)  varikositas vulva yang melemahkan jaringan perenium
(6)  arkus pubis sempit dengan pinyu bawah panggul yang sempit pula sehingga menekan kepala bayi kearah posterior
(7)  perluasan episiotomi

b)    Faktor janin
(1)  Bayi besar
(2)  Posisi kepala yang abnormal
(3)  Kelahiran bokong
(4)  Ekstraksi forseb yang sukar
(5)  Distosia bahu
(6)  Anomali kongenital (hidrosephalus)
3)    Retensio placenta
a)    Plasenta belum terlepas dari dinding uterus karena tumbuh melekat lebih dalam
b)    Penatalaksanaan yang salah pada kala tiga
4)    Inversio uteri
a)    Tonus otot rahim yang lemah
b)    Tekanan atau tarikan pada fundus (tekanan intraabdominal,tekanan dengan tangan,tarikan pada tali pusat)
c)    Canalis servikalis yang longgar.

5)    Perdarahan terlambat : Sisa plasenta atau endrometritis
6)    Ruptur uteri
a)    Tindakan obstertri
b)    Ketidak seimbangan fetopelvik
c)    Letak lintang yang diabaikan
d)    Kelebihan dosis obat bagi nyeri persalinan atau induksi persalinan
e)    Jaringan parut pada uterus





2.    Kegawatdaruratan neonatal
a)    Factor kehamilan
1)    Kehamilan kurang bulan
2)    Kehamilan dengan penyakit DM
3)    Kehamilan dengan gawat janin
4)    Kehamilan dengan penyakit kronis ibu
5)    Kehamilan dengan pertumbuhan janin terhambat
6)    Infertilitas
b)    Factor pada partus
1)    Partus dengan infeksi intrapartu
2)    Partus dengan penggunaan obat sedative
c)    Factor pada bayi
1)    Skor apgar yang rendah
2)    BBLR
3)    Bayi kurang bulan
4)    Berat lahirlebih dari 4000 gram
5)    Cacat bawaan
6)    Frekuensi pernafasan dengan observasi lebih dari 60x/m












BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Kegawatdaruratan adalah dignosa dan tindakanterhadap semua pasien yang memerlukanperawatan yang tidak direncanakan danmendadak atau terhadap pasien dengan penyakit atau cidera akut untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian pasien.
Kegawat daruratan maternal antara lain:
a.    Kegawat daruratan pada kehamilan usia muda antara lain : abortus,kehamilan ektopik mola hitadidosa
b.    Kegawat daruratan pada usia lanjut dan persalinan, antara lain : adanya darah segar yang keluar, perdarahan dengan nyeri,
c.    Kegawat daruratan pasca bersalin, antara lain : antonia uteri, robekan jalan lahir, retentio plasenta, tertinggalnya sebagian plasenta, inversio uteri, ruptur uteri.
Kegawat daruratan neonatal, antara lain : Hipotermi ,Hipertemia ,Hiperglekemi, Tetanus Neonaturum. Penyebab kegawat daruratan maternal, antara lain: Perdarahan kehamilan usia muda, Perdarahan usia lanjut . Penyebab kegawat daruratan neonatal : Faktor kehamilan, Faktor pada partus, Faktor pada bayi

B.   Saran
Sebagai seorang bidan kita harus cepat dan tepat mengetahui segala kegawat daruratan yang mungkin terjadi atau bahkan sudah terjadi. Maka dari itu kita harus dengan tepat menangani segala macam kegawat daruratan yang terjadi.


DAFTAR PUSTAKA
Heller,luz.1997.Gawatdarurat Ginekologi dan Obsterti.Jakarta:EGC
P.O.G.I,dkk.2010.Buku Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo